Selasa, 20 Desember 2011

TUBUH, BUKAN MESIN YANG HIDUP!


Tubuh ini punya kita. Cintailah dan jangan “memasrahkannya” ke dokter, yang paling ahli sekalipun.

Lima tahun belakangan ini, ada sebuah ‘ritual’ di kamar praktek saya, yang bisa jadi belum pernah dilakukan dokter lain. Saya lebih suka menyebutnya sebagai ‘servis utama’ sebelum saya lakukan tindakan apa pun terhadap pasien. Semua pasien baru saya kumpulkan pada jam tertentu dan mulailah ‘servis utama’ yang saya maksud: ceramah kecil satu jam tentang arti tubuh manusia, mengapa jadi sakit, apa yang biasa dilakukan orang menghadapi tubuh yang sedang bertingkah itu, apa yang justru tidak biasa dilakukan dan…kaitannya dengan sikap-sikap prilaku manusia secara emosional maupun spiritual. Kelihatan ‘garing’? Aha. Nanti dulu.

Apa yang Anda lakukan ketika tekanan darah naik? Kolesterol ‘nanjak’? Gula darah melonjak? Kekentalan darah bertambah? Nyeri kepala tak kunjung reda? Asam urat bertambah parah? Anda pasti langsung mencari dokter dan obat manjur. Cara berpikir yang sama ketika anak menunjukkan gejala hampir tidak naik kelas. Cari guru les. Cari bala bantuan. Prinsipnya adalah menjawab pertanyaan “bagaimana caranya untuk….” Cara berpikir demikian timbul persis ketika prinsip-prinsip mekanika diterapkan dalam hampir semua aspek kehidupan manusia. Termasuk tubuh. Namun salah kaprah terjadi ketika penanganan terbatas hanya pada aspek mekanika tersebut. Tekanan darah naik, kolesterol menanjak, gula darah melonjak dan yang lainnya dilihat sebagai ‘sinyal alarm’ yang perlu segera ‘ditumpas’. Kita hanya khawatir dengan akibat kelanjutan dari alarm yang terus menyala itu. Di sinilah titik awal kesalahan besar. ‘Memadamkan alarm’ tidak berarti menyelesaikan masalah. Mengonsumsi obat-obatan sebagai pemadam alarm TANPA bertanya “MENGAPA ALARMNYA MENYALA?” sama halnya dengan menyediakan guru les paling handal bagi seorang anak yang terancam tinggal kelas, tapi setiap malamnya anak tersebut masih asyik bermain playstation di kamarnya hingga subuh.

Menjawab pertanyaan ‘mengapa’ tekanan darah naik atau kolesterol “nanjak” kadang tidak terlihat canggih. Tak ada solusi teknologi instrumentalis atau apa pun yang mendongkrak promosi industri farmasi. Namun pasien mendapat solusi seumur hidup. Dia mendapatkan hak-nya untuk memahami MENGAPA tekanan darahnya naik, gula darahnya tak terkontrol atau nyeri kepala hampir membuatnya setengah gila.

‘Dosa’ awal ilmu kedokteran melihat tubuh manusia seperti kerja mesin dimulai sejak pencetus era pencerahan di abad 16 – Descartes – sebagai seorang cendekia menyebut istilah ‘mesin tubuh manusia’. Dan banyak paradigma ilmu kedokteran berasal dari paradigma ilmu eksakta. Cara pandang tubuh manusia sebagai mesin menimbulkan penderitaan tak kunjung akhir. Terjadi ‘penyusutan’ nilai tubuh manusia. Padahal cara seorang manusia terbentuk sama sekali berbeda dengan cara satu unit mobil dirakit. Mobil dirakit dari berbagai suku-suku cadang yang berasal dari pelbagai pabrik suku cadang untuk disatukan menjadi satu unit mobil. Manusia? Berawal dari SATU sel, yang berkembang menjadi banyak dan membentuk organ serta sistem jaringan, berinteraksi secara emosional dan spiritual.

Sudah cukup banyak filsuf yang pada akhirnya prihatin dengan cara-cara manusia memperbaiki kesehatannya. Pada masa sekarang ini, seseorang pergi ke dokter atau sarana berobat seperti masuk bengkel. Terkotak menurut spesialisasinya, sedemikian rupa seperti mencari seorang ahli servis karburator  atau tukang kuras radiator. Lebih parah lagi, pasien menyerahkan sebagian otonomi dirinya kepada ‘sang ahli’-dengan asumsi “Ah, dia kan sekolah dokter yang lebih tau penyakit saya!” Orang lupa bahwa yang paling paham kondisi tubuhnya adalah dirinya sendiri dan ia BERHAK untuk mendapat penjelasan ‘habis-habisan’ dari sang dokter untuk dapat MEMUTUSKAN apa yang terbaik. Dokter beretika baik akan mampu menjelaskan MENGAPA penyakit timbul dengan sejujurnya melalui cara apa pun. Pada akhirnya pasien kembali memiliki tanggung jawab merawat tubuhnya sendiri. Berbagi tanggung jawab dalam ‘health care’ adalah kerjasama yang terbaik antara dokter dan pasien.

Manusia disebut hidup seutuhnya bukan hanya berdasarkan berfungsinya organ-organ tubuh. Manusia holistik memiliki keterhubungan dengan dirinya sendiri dan dengan orang lain, baik secara emosional maupun spiritual, untuk tumbuh kembang setiap saat seturut dengan hukum alam. Dengan demikian manusia bisa merasa ‘at ease’ dengan dirinya sendiri dan keluar dari kondisi ‘dis-ease’. Menangani tubuh yang sakit dengan pendekatan holistik tidak akan pernah melalui jalur mekanistik-instrumentalis. Suku cadang mobil dengan kehilangan sekrup bernomor 15 misalnya dengan mudah diperbaiki begitu sekrup nomor 15 itu didapat, sekali pun berasal dari mesin penggiling tebu. Manusia? Setiap sel jaringan tubuhnya memuat ke-khas-an, keintiman personal manusia tersebut secara khusus. Every human cell bears the signature of its owner.

Mencoba mematikan alarm tubuh manusia dengan obat-obatan atau semena-mena memutuskan reaksi kompensasi tubuh dalam menghadapi perubahan sama saja dengan mengundang bahaya yang lebih fatal. Saya mempunyai istilah ‘menghukum tubuh yang nakal’ tanpa mencoba memahami mengapa tubuh menjadi ‘nakal’ dan menimbulkan reaksi yang merugikan. Bisa jadi sesuatu yang nampak merugikan pada awalnya, sebetulnya reaksi perlindungan alamiah sebelum terjadi kejadian yang lebih buruk lagi! Kolesterol buruk bukan hanya berdampak pada kenaikan tekanan darah atau menyebabkan penyempitan pembuluh koroner jantung. Kolesterol buruk timbul karena kolesterol yang BAIK tidak cukup diperhatikan untuk ditingkatkan! Kolesterol buruk pun timbul karena tubuh membutuhkannya untuk kondisi stres mental terus menerus yang ‘dinikmati’ pemilik tubuh sebagai drama tak kunjung akhir. Jadi, menurut Anda, apa jalan terbaik untuk masalah ini? Tentu saja. BODY-MIND-SPIRITUAL BALANCE! Tubuh, pikiran dan jiwa membutuhkan asupan ‘gizi’ masing-masing selaras dengan kebutuhan alamiahnya.

Sudah waktunya penghormatan terhadap tubuh manusia bukan hanya sekadar jargon. Menyelesaikan semua masalah tubuh melalui jalur cepat mengenyahkan semua rasa-rasa yang tidak nyaman atau menjinakkan angka-angka mengerikan di atas kertas laboratorium sama saja seperti menciptakan bom atom pada diri sendiri. Karena itulah, ketika seorang pasien kembali mencintai dirinya sendiri, memahami bagaimana ia mampu menyembuhkan tubuhnya dengan penuh komitmen dan tanggung jawab,  ilmu ‘mengobati’ sebetulnya tidak perlu terlalu canggih, kok. HEALTH IS A SCIENTIFIC ART,AS WELL AS  AN ARTISTIC SCIENCE IN ITSELF.  

Dr. Tan Shot Yen, kinesiolog, sekaligus praktisi Braingym dan Quantum Touch, energy healing. Ia juga dikenal sebagai basic & advanced clinical hypnotherapist di Internasional Center for Hypnosis Education & Research. Selain sibuk menjadi pembicara dan narasumber di berbagai seminar, talkshows dan media, dia juga dipercaya menjadi co-teacher di kursus-kursus medical hypnotherapy. Wanita yang sedang sudah menyelesaikan studi di Program Magister Filsafat Manusia, STF Driyarkara ini juga aktif sebagai konsultan di Health Service Program – USAID.

sumber:preventionindonesia.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar