Senin, 02 Mei 2016

Dabetes Mellitus? Dibekam saja | Cara Mengobati Diabetes Alami

Diabetes mellitus (DM) atau yang lebih umum dikenal dengan kencing manis atau penyakit gula merupakan salah satu penyakit degeneratif yang menjadi ancaman menakutkan bagi manusia. Bahkan telah menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia dan juga di dunia.

Sebagian kalangan menyatakan bahwa penyakit ini tidak bisa disembuhkan tapi hanya bisa dikontrol kadar gula darahnya agar selalu dalam keadaan seimbang, yaitu dengan terapi obat-obatan penurun gula darah secara kontinyu disertai diet yang benar. Benarkah penyakit ini tidak bisa disembuhkan? Adakah cara lain untuk mengontrol gula darah?

Dalam musnad Imam Ahmad disebutkan hadist dari Ziyad bin Ilaqah, dari Usamah bin Syuraik diriwayatkan bahwa ia menceritakan, “Suatu saat aku sedang bersama Nabi SAW, tiba-tiba datanglah beberapa lelaki badui. Mereka bertanya,”Wahai Rasulullah, apakah kami boleh berobat?”
Beliau menjawab,”Betul hai para hamba Allah, berobatlah! Karena setiap kali Allah menciptakan penyakit, pasti Allah juga meniptakan obatnya, kecuali satu penyakit saja.” Mereka bertanya,”Penyakit apa itu wahai Rasulullah?”
Beliau menjawab,”Lanjut usia.” Dalam lafazh lain disebutkan,”Setiap kali Allah menurunkan penyakit, Allah pasti menurunkan penyembuhnya. Hanya ada orang yang mengetahuinya dan ada yang tidak mengetahuinya.”
(dikeluarkan oleh Abu Daud dan At-Tirmidzi dengan derajat hasan shahih. Juga oleh An-Nasa’I, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban dengan derajat shahih).

Maka tidak ada yang tidak mungkin bahwa penyakit separah apapun, akan bisa disembuhkan atas ijin Allah SWT.

PENYAKIT DIABETES PADA ZAMAN NABI MUHAMMAD SAW

Apakah diabetes sudah ada pada zaman nabi Muhammad SAW? Hal ini berdasarkan literatur sejarah, bahwa pada tahun 1552 sebelum masehi, di Mesir dikenal penyakit yang ditandai dengan sering kencing dengan jumlah yang banyak (yang disebut poliuria) dan penurunan berat badan yang cepat tanpa disertai rasa nyeri.

Kemudian pada tahun 400 sebelum masehi, penulis India, Susrhata menamakan penyakit tersebut dengan penyakit “kencing madu”.

Dari fakta sejarah tersebut maka bisa disimpulkan bahwa diabetes sudah ada pada jaman nabi Muhammad SAW, berdasarkan dimulainya kalender hijriah sekitar 500 tahunan setelah tahun masehi dimulai. Wallahu a’lam bishawab.

Namun islam dengan syari’at yang sempurna ini telah mengantisipasi kemungkinan terjadinya penyakit diabetes melaui sabda nabi Muhammad SAW, ”tidak ada bencana yang lebih buruk yang diisi oleh manusia daripada perutnya sendiri. Cukuplah sesorang itu mengkonsumsi beberapa suap makanan yang dapat menegakkan tulang punggungnya. Kalau terpaksa, maka ia bisa mengisi 1/3 perutnya dengan makanan, 1/3 untuk minuman, dan 1/3 sisanya untuk nafasnya”
(shahih At-Tirmidzi).
Karena faktor pola makan menjadi salah satu pemicu utama diabetes.

SOLUSI SELAIN OBAT

Ada beberapa solusi mengatasi diabetes tanpa obat kimia sintetis, atau juga bisa digunakan sebagai terapi pendamping bersamaan dengan terapi obat-obatan (medika mentosa).
Salah satunya adalah HIJAMAH atau BEKAM.
Berdasarkan riset ilmiah, pengobatan sunnah ini sangat ampuh dalam mengontrol gula darah.

Berikut ini beberapa hasil laboratorium yang dikutip dari buku karya ilmuwan Arab yang terkemuka, Muhammad Amin Syaikhu, yang berjudul Ad-Dawa’u ‘Al-’Ajib (Obat Ajaib).
Dimana laporan ini dibuat oleh dokter-dokter spesialis terkenal dalam berbagai bidang kedokteran, yang kemudian dihimpun dan diteliti kembali secara medis oleh penulis dan seorang intelektual, ‘Abdul Qodir Yahya, yang terkenal dengan julukan Ad-Dironi.

Laporan Umum Penelitian tentang Pengobatan dengan Metode Bekam Tahun 2001 M, Dibawah konsultan dr. Muhammad Nabil Syarif (Mantan Dekan Fakultas Farmasi)

DIABETES MELLITUS, DIBEKAM SAJA..!!

Penelitian dilakukan oleh Tim Laboratorium yang terdiri dari beberapa ahli :
1. dr. Muhammad Nabil Syarif (Dekan Fakultas Farmasi)
2. dr. Ahmad Samir Fauri (Ahli Patologi Klinik dan Laboratorium dari Prancis dan Ketua Ikatan Apoteker Syiria)
3. dr. Fayiz Hakim (Ahli Patologi Anatomi dan Patologi Klinis, Amerika)
4. dr. Muhammad Mahjub Geraudy (Ketua Jurusan Laboratorium Kedokteran Universitas Damaskus)
5. dr. Muhammad Fuad Jabashini (Ahli Patologi Klinis dan Laboratorium Prancis)
6. dr. Sa’d Yaqub (Ahli Farmasi Rumah Sakit dan Ketua Organisasi Pengiriman Obat D.D.S dari Prancis)

Juga tim kedokteran yang terdiri dari beberapa personal sebagai berikut :
1. dr. Ahmad Tikriti (Dosen Ahli Bedah Jantung, Universitas Damaskus)
2. dr. Abdul Malik Syalani (Dosen Penyakit Saraf, Universitas Damaskus)
3. dr. Muhyidin Sa’udi (Dosen Pengobatan Kanker dan Tumor, Universitas Damaskus)
4. dr. Abdul Ghoni ‘Arofah (Ketua Komite Anti TBC dan Penyakit Seksual Syiria)
5. dr. Akrom Hajar (Dosen Penyakit THT serta Bedah Kepala dan Leher, Universitas Damaskus)
6. dr. Marwan Zahro (Kepala Jurusan Bedah Saraf, Rumah Sakit Tasyrin)
7. dr. Abdul Lathif Yasin (Dosen Tamu Fakultas Kebidanan London)
8. dr. Haitsam Habal (Dosen Penyakit dan Bedah Mata Universitas Damaskus)
9. dr. Ahmad Afif Faur (Kepala Bagian Tumor Rumah Sakit Ibnu Rusyd)
10. dr. Amin Sulaiman (Dosen Hematologi Universitas Damaskus)
11. dr. Abdulloh Makki Al-Katani (Konsultan Bedah Umum dari Jerman)
12. dr. Tholal Habusy (Dosen Bedah Mata Universitas Al-Ba’ts)
13. dr. Ahmad Ghiyats Jabqoji (Dosen Penyakit Saraf Universitas Istambul)

Penelitian ini dilakukan berdasarkan metodologi ilmiah yang disimpulkan oleh intelektual besar Arab, Muhammad Amin Syaikhu, dari hadits-hadist Nabi yang mulia, yang dilakukan dengan kriteria :
• Pagi hari sebelum seseorang mengkonsumsi makanan apapun.
• Di musim semi dan selama bulan april dan Mei
• Pada paruh kedua bulan Qomariah
• Usia di atas 20 tahun untuk pria dan setelah menopause untuk wanita

Banyak sekali hasil riset yang mengejutkan, dan salah satu hasil riset tersebut yang berhubungan dengan penyakit diabetes menunjukkan bahwa kadar gula darah pada 83,75% kasus turun, sedangkan sisanya tetap pada batas wajar. Kadar gula darah turun pada para pengidap kencing manis dalam 92,5% kasus. SUBHANALLAH!

RESEP TITIK BEKAM

Resep titik bekam untuk terapi diabetes sangatlah beragam berdasarkan hasil ijtihad masing-masing ahli bekam.
Tidak ada yang salah dari resep titik yang beliau-beliau hasilkan karena resep tersebut muncul pasti dengan berlandaskan ilmu, pengalaman, dan dasar hukum masing-masing, yang tentunya disertai dengan mohon petunjuk kepada Allah SWT.
Karena seorang hamba, siapapun itu akan bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya yakni tanggung jawab di dunia dan akhirat. Kami tidak membuat resep baru dalam tulisan ini, namun berdasarkan kajian dan pengalaman yang pernah dilakukan pada praktek di lapangan, maka kami sangat menganjurkan aplikasi titik weiwanxiashu Ex-B 3 (extra back point number 3) untuk penanganan diabetes.

Ini adalah titik akupunktur yang telah terbukti secara empiris memiliki pengaruh signifikan dalam menormalkan kadar gula darah. Walaupun titik akupunktur, titik ini sangat memungkinkan untuk dilakukan pembekaman.
Karena sudah lazim kalau titik akupuktur dimanfaatkan sebagai titik pelengkap selain titik sunnah oleh para ahli bekam.
Hasil terapi yang memuaskan insya Allah akan didapat jika dilakukan dengan penerapan standar tata laksana terapi yang baik dan benar.

Berikut ini adalah profil titik tersebut :
• Nama titik : weiwanxiashu Ex-B 3 (Extra-Back 3)
• Lokasi : pada punggung, di bawah prosessus spinosus vertebrae torachalis VIII, 1,5 cun lateral dari garis tengah posterior.
• Aksi : menguatkan limpa dan mengharmoniskan lambung
• Indikasi : diabetes, masalah lambung, nyeri abdomen, mual, intercostal neuralgia

HAL-HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN
Ada beberapa kaidah dan metode terapi yang harus diperhatikan dengan benar agar proses terapi berjalan dengan aman dan terasa manfaatnya, seperti yang tertera di bawah ini:
1. Titik ini bisa diaplikasikan sebagai resep titik tunggal atau sebagai titik pelengkap dari beberapa resep titik yang telah ada atau berdasarkan kondisi tertentu.
2. Hati-hati aplikasi titik ini pada penderita diabetes dengan komplikasi, seperti: hipoglikemi, stroke, hipertensi, gangren, neuropatik diabetes, dan sebagainya. Kecuali dengan tatalaksana yang baik dan benar.
3. Harus diperhatikan dengan benar tentang sterilisasi dan teknik penyayatan, mengingat penderita diabetes sangat rawan dengan luka.
4. Perlu ada metode tertentu untuk pembekaman pada penyakit yang bersifat dingin. Misalkan dengan herbs cupping (penggunaan herbal pada pembekaman) dan metode penunjang lainnya.
5. Perlu adanya sinergi perawatan/rujukan kepada/dengan metode kedokteran modern pada kondisi tertentu.
6. Perlu adanya aplikasi palpasi titik bekam sebagai data pelengkap untuk menentukan prinsip terapi, cara terapi, manipulasi, dan prognosa.
7. Ketepatan manipulasi pembekaman menentukan efek terapi.

Semoga pemaparan yang singkat ini bisa bermanfaat untuk kemaslahatan umat, setidaknya membuka wacana dalam pengembangan bekam (khususnya dalam kasus diabetes) sebagai syi’ar sunnah nabi Muhammad SAW, sehingga dapat dinikmati manfaatnya oleh siapa saja tanpa memandang latar belakang apapun, sebagai tanda bahwa islam adalah rahmat bagi seluruh alam, karena bekam bukan hanya untuk muslim, tapi merupakan solusi untuk semua umat manusia. Wallahu a’lam bishawab. Seperti halnya pengalaman kami, tidak sedikit non-muslim yang rutin berbekam di tempat praktek kami. Bahkan, ada yang rutin mengkonsumsi air zam-zam dan minyak zaitun secara kontinyu. Subhanallah! Jika kemujaraban bekam telah terbukti secara ilmiah berdasarkan petunjuk yang nyata, masihkah kita menutup diri?
(dari berbagai sumber)
See Translation

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar